RUBRIK

Sinergi, Kunci Bersaing di Era Distruptif

Industri telekomunikasi tempat saya bernaung selama 27 tahun terakhir adalah salah satu industri yang punya potensi terkena disrupsi dari pemain-pemain digital yang baru seumur jagung. Salah satu serangan yang menggigit yang dilakukan oleh WhatsApp.

Ahmad Sugiharto memulai tulisannya dalam buku Synergy Way of Disruption dengan menggambarkan sebuah tantangan yang harus dihadapi perusahaan besar di era disruptif ini. Disrupsi menurut KBBI diartikan sebagai tercerabut dari akarnya, sebuah kondisi yang menggambarkan perubahan besar dalam kehidupan dan bisnis akibat perkembangan teknologi.

Perusahaan-perusahaan besar bahkan yang mendominasi pasar memang memiliki keunggulan dari sisi merek, sumber daya, modal, dan basis yang besar. Kendati demikian, tidak seluruh perusahaan mampu bertahan. Banyak perusahaan yang tidak siap menghadapi gelombang disrupsi digital. Bahkan tak sedikit yang terlambat menyadari besarnya gelombang perubahan ini.

Tiga kelemahan besar yang membuat perusahaan-perusahaan besar sulit bertahan antara lain, lemah dalam inovasi, tidak lincah menyikapi perubahan yang begitu cepat, dan tidak memiliki keberanian untuk mengambil risiko atau berekspresimen. Sementara para pendatang baru datang dengan lebih inovatif, lincah, dan berani mengambil risiko.

Untuk memenangkan persaingan, tulis Ahmad, perusahaan petahana harus menggunakan kekuatan yang dimiliki. Kekuatan merek, sumber daya, modal, dan basis yang besar adalah kekuatan yang harus dikembangkan demi keberlanjutan inovasi perusahaan. Kekuatan ini diperlukan untuk menghasilkan produk yang disruptif, yakni produk dengan kualitas yang lebih tinggi dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan kompetitor.
Satu catatan penting yang harus dilakukan di era disruptif ini, perusahaan perlu membuka gerbang selebar-lebarnya untuk bersinergi. Maka akan tercipta produk yang disruptif.

 

iQuiz 11 – 2022
close slider

iQuiz 11 - 2022

Penerapan GRC (Governance, Risk and Compliance) di PLN Icon Plus sudah dimulai sejak akhir 2020 lalu. Penerapannya diharapkan dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, pertumbuhan, dan keberlanjutan perusahaan, hingga kepercayaan stakeholder. Penerapan GRC tersebut mencakup tiga aspek, salah satunya adalah …